(Kompas.com) MRT Koridor Timur-Barat Bakal Tembus Summarecon Serpong dan Tangerang

Berdasarkan data Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), pergerakan di wilayah ini menembus angka 88 juta perjalanan per hari, di mana dominasi kendaraan roda dua dan roda empat masih menjadi kontributor utama kemacetan. Di tengah kebuntuan mobilitas ini, konsep Transit Oriented Development (TOD) muncul sebagai imperatif sosiologis dan ekonomi. Baca juga: TOD dan Hunian Vertikal Perkuat Peran Bekasi dalam Peta Ekonomi Jabodetabek Pembangunan berbasis TOD menitikberatkan pada integrasi hunian, komersial, dan ruang publik dalam radius jalan kaki (400–800 meter) dari titik transit massal.

Begawan urbanisme dunia, Peter Calthorpe, dalam bukunya The Next American Metropolis, menegaskan bahwa "Transit-oriented development is the only way to create a sustainable and livable city in the face of rapid urbanisation."

Pandangan ini sejalan dengan realitas ekonomi, bahwa properti yang terletak di kawasan TOD mengalami apresiasi nilai (capital gain) 15 persen hingga 25 persen lebih tinggi dibandingkan kawasan konvensional karena efisiensi waktu dan reduksi biaya transportasi yang signifikan. Sinergi Strategis di Koridor Barat Memahami urgensi tersebut, PT Summarecon Agung Tbk mengambil langkah akseleratif dengan mendukung kerjasama strategis bersama PT MRT Jakarta (Perseroda). Penjajakan ini difokuskan pada pengembangan jalur MRT Koridor Timur-Barat wilayah Banten (Kembangan–Balaraja), yang akan mengintegrasikan dua kota terpadu Summarecon Serpong dan Summarecon Tangerang.

Langkah ini dikukuhkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU), pada Rabu (4/2/2026), di Balai Kota Provinsi DKI Jakarta, disaksikan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Gubernur Banten Andra Soni. Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Pengembangan Bisnis MRT Jakarta Farchad Mahfud bersama Executive Director Summarecon Serpong Albert Luhur dan Executive Director Summarecon Tangerang Hindarko Hasan. President Director Summarecon Agung, Adrianto P. Adhi, menyatakan, inisiatif ini adalah manifestasi komitmen perusahaan terhadap pembangunan berkelanjutan.

Menurutnya, konektivitas transportasi publik merupakan salah satu fondasi dalam pengembangan kota terpadu yang berkelanjutan. "Integrasi jaringan transportasi dengan kawasan ini menjadi bagian penting dalam menciptakan mobilitas yang efisien, mengurangi kemacetan, serta meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup masyarakat dalam jangka panjang," tegas Adrianto.

Transformasi Ekosistem: Dari Serpong hingga Tangerang

Bagi kawasan yang sudah mapan seperti Summarecon Serpong, kehadiran MRT Koridor Timur-Barat diproyeksikan sebagai instrumen "penguat" ekonomi. Executive Director Summarecon Serpong, Albert Luhur, menjelaskan bahwa kawasan yang telah memiliki basis penghuni kuat dan dinamika ekonomi kreatif ini membutuhkan interkoneksi.

"Integrasi ini menjadi fondasi penting agar Summarecon Tangerang sejak awal berkembang sebagai kawasan yang terhubung dengan transportasi massal, memastikan fungsi residensial dan komersial terus berkelanjutan (sustainable) lintas generasi," ungkap Hindarko.